NDUGA - Di tempat di mana dingin pegunungan Nduga seolah membekukan segalanya, kehangatan justru datang dari mereka yang berseragam loreng. Satgas Yonif 733/Masariku, di bawah komando Letkol Inf Julius Jongen Matakena, menjelma bukan sekadar penjaga batas negeri tetapi juga penjaga hati.
Jumat (4/4/2025), suasana berbeda terasa di Kampung Mumugu. Aroma makanan hangat bercampur tawa anak-anak, senyum para mama, dan haru para sesepuh kampung. Satgas TNI berbagi lebih dari sekadar logistik mereka membagikan harapan.
“Kami datang bukan hanya untuk menjaga, tapi juga untuk menyentuh hati, ” ujar Letkol Julius. "Kami ingin masyarakat tahu, mereka tak pernah sendiri di tanah kelahiran mereka."
Pakaian layak pakai, makanan siap santap, minuman segar, dan senyum tulus para prajurit mengalir seperti pelukan bagi warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Dan seperti biasa, TNI datang tak hanya dengan tangan, tapi dengan hati.
Bapak Petrus, tokoh pemuda kampung, tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. Bapak tentara adalah malaikat bagi kami. Kalian tidak datang hanya membawa bantuan, tapi juga kasih sayang, " ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Mayjen TNI Lucky Avianto, Pangkoops Habema, memberikan apresiasi penuh terhadap aksi kemanusiaan ini.
"Inilah wajah sejati TNI. Mereka hadir tak hanya untuk menjaga batas negara, tapi juga merawat kemanusiaan yang menjadi jantung dari persatuan kita, " katanya.
Ia menegaskan, “Setiap senyum yang tumbuh di wajah anak-anak Papua adalah cermin dari keberhasilan kita menjaga hati rakyat. Dan itu dimulai dari kepedulian.”
Di tengah sunyinya hutan Nduga, di balik kabut dan dingin malam, Masariku menyalakan lentera cinta dan kepedulian. Sebuah pesan senyap namun kuat: Negara hadir, lewat mereka yang bertugas dengan hati.
Authentication:
Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono