Gigitan Hewan Berisiko Infeksi Serius, Petugas Bali Zoo Dibekali Penanganan Awal dan Pengelolaan Limbah

2 days ago 6

GIANYAR - Gigitan hewan tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga berisiko tinggi menyebabkan infeksi serius hingga penularan penyakit zoonosis apabila tidak ditangani secara tepat. Risiko tersebut menjadi perhatian utama dalam kegiatan pelatihan penanganan awal gigitan hewan dan pengelolaan limbah kebun binatang yang digelar di Bali Zoo, Gianyar.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan 35 pegawai kebun binatang dari berbagai divisi, mulai dari perawat satwa, petugas keamanan, hingga kebersihan lingkungan. Kegiatan ini menghadirkan tiga akademisi lintas disiplin sebagai narasumber, yakni dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra, Sp.B, dr. I Putu Arya Giri Prebawa, SpPD, serta Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, MSi.

dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra menegaskan bahwa luka akibat gigitan hewan tidak boleh dianggap sepele. 

“Gigitan hewan memiliki potensi membawa bakteri, virus, maupun parasit. Tanpa penanganan awal yang benar, luka bisa berkembang menjadi infeksi serius, bahkan mengancam keselamatan pekerja, ” ujarnya. Menurutnya, pertolongan pertama yang cepat dan sesuai standar medis menjadi kunci pencegahan komplikasi lebih lanjut.

Sementara itu, dr. I Putu Arya Giri Prebawa menyoroti aspek penyakit infeksi dan zoonosis yang dapat muncul dari gigitan maupun cakaran hewan. Ia menjelaskan bahwa lingkungan kebun binatang memiliki tingkat risiko tersendiri karena intensitas interaksi antara manusia dan satwa. “Petugas berada di garis terdepan. Jika literasi kesehatan mereka rendah, risiko penularan penyakit akan meningkat, baik bagi pekerja maupun pengunjung, ” katanya.

Selain aspek medis, pelatihan ini juga mengangkat persoalan pengelolaan limbah kebun binatang. Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, MSi, menyampaikan bahwa limbah organik seperti kotoran satwa dan sisa pakan harus dikelola secara tepat untuk mencegah pencemaran dan penyebaran penyakit. 

“Sanitasi lingkungan yang buruk dapat menjadi mata rantai penularan penyakit. Pengelolaan limbah yang ramah lingkungan bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga bagian dari sistem pencegahan kesehatan, ” jelasnya.

Kegiatan yang berlangsung pada 2 Oktober 2025 ini dilaksanakan melalui rangkaian penyuluhan, pelatihan pertolongan pertama pada kasus gigitan hewan, simulasi perawatan luka, serta edukasi pengelolaan limbah kebun binatang. Sebelum dan sesudah pelatihan, peserta mengikuti pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta sebesar 27 persen. Peningkatan tersebut mencakup pemahaman tentang langkah penanganan awal gigitan hewan, pencegahan infeksi, keselamatan kerja, serta praktik sanitasi dan pengolahan limbah yang lebih baik. Selain itu, tim pengabdian juga menyerahkan bantuan berupa perlengkapan P3K dan alat emergensi untuk mendukung kesiapsiagaan petugas di lapangan.

Program ini diharapkan dapat memperkuat sistem keselamatan kerja di kebun binatang sekaligus menekan risiko infeksi akibat gigitan hewan. Para narasumber merekomendasikan agar pelatihan serupa dilakukan secara berkala dan diperluas ke sektor lain yang memiliki risiko interaksi tinggi dengan satwa, guna melindungi pekerja, pengunjung, dan lingkungan secara berkelanjutan.

Editor - Ray

Read Entire Article
Masyarakat | | | |