Profil Paul Biya, Presiden Tertua di Dunia yang 2 Bulan Kunjungan ke Eropa Tak Pulang-pulang

3 hours ago 2

loading...

Presiden Kamerun Paul Biya, presiden tertua di dunia sudah dua bulan kunjungan ke Eropa tapi tak kunjung pulang. Foto/Presiden Paul Biya

YAOUNDE - Paul Biya bukan sekadar salah satu pemimpin paling lama berkuasa di Afrika. Pada usia 93 tahun, dia merupakan kepala negara tertua di dunia dan telah memimpin Kamerun selama lebih dari empat dekade.

Namun, pada 2026, sosok yang selama puluhan tahun menjadi pusat kekuasaan Kamerun itu kembali menjadi sorotan karena alasan yang berbeda.

Baca Juga: Presiden Tertua di Dunia Pamitnya Kunjungan Singkat ke Eropa, tapi Sudah 2 Bulan Tak Pulang

Biya meninggalkan Kamerun pada 7 Juni 2026 untuk apa yang disebut pemerintah sebagai “kunjungan pribadi singkat” ke Eropa. Hingga Selasa (18/8/2026), atau 72 hari kemudian, dia belum kembali ke negaranya.

Pemerintah Kamerun mengatakan Biya berada di Jenewa, Swiss, dan menegaskan bahwa dia tidak dirawat di rumah sakit. Namun, informasi mengenai kondisi kesehatannya maupun jadwal kepulangannya tetap sangat terbatas.

Absennya kepala negara selama lebih dari dua bulan ini memunculkan kembali pertanyaan lama: bagaimana kondisi sebenarnya Paul Biya, siapa yang menjalankan pemerintahan ketika dia berada di luar negeri, dan seperti apa masa depan Kamerun setelah era panjang kepemimpinannya?

Anak Desa yang Menjadi Presiden

Nama lengkapnya adalah Paul Barthélemy Biya'a bi Mvondo. Dia lahir pada 13 Februari 1933 di Mvomeka'a, wilayah Meyomessala, Departemen Dja-et-Lobo, Region Selatan Kamerun. Dia merupakan putra Etienne Mvondo Assam dan Anastasie Eyenga Elle.

Dia tumbuh di lingkungan Kamerun yang masih berada di bawah pemerintahan kolonial. Biya kemudian mendapatkan pendidikan yang membawanya ke Prancis, tempat dia mempelajari hukum, ilmu politik, dan administrasi publik.

Perjalanan pendidikannya menjadi modal penting untuk memasuki birokrasi pemerintahan setelah Kamerun meraih kemerdekaan.

Menurut data biografi resmi Kepresidenan Kamerun, Biya merupakan kepala negara kedua Kamerun. Dia mulai memegang jabatan presiden pada 6 November 1982 setelah Presiden Ahmadou Ahidjo mengundurkan diri dua hari sebelumnya.

Saat mengambil alih kekuasaan, usia Biya baru 49 tahun.

Tidak banyak yang menyangka bahwa pergantian kekuasaan tersebut akan menghasilkan salah satu pemerintahan terpanjang di dunia.

Dari Birokrat Menjadi Orang Nomor Satu

Sebelum menjadi presiden, Biya membangun karier secara bertahap di pemerintahan Ahmadou Ahidjo.

Dia memasuki pemerintahan pada dekade 1960-an dan menduduki berbagai posisi birokrasi. Pada 1968, dia menjadi Sekretaris Jenderal Kepresidenan. Setelah itu, kariernya terus meningkat hingga dia diangkat menjadi Perdana Menteri pada 30 Juni 1975.

Pada 1979, perubahan konstitusional menetapkan perdana menteri sebagai penerus konstitusional presiden.

Ketika Ahidjo secara mengejutkan mengundurkan diri pada 4 November 1982, Biya mengambil alih jabatan presiden dua hari kemudian.

Pada awalnya, hubungan Biya dan Ahidjo tetap terlihat baik. Namun, hubungan keduanya kemudian memburuk. Ahidjo meninggalkan Kamerun dan hidup dalam pengasingan setelah perselisihan politik dengan penerusnya. Biya kemudian mengambil kendali penuh atas partai yang berkuasa.

Sejak saat itu, kekuasaan Biya semakin terkonsolidasi.

44 Tahun di Puncak Kekuasaan

Biya telah menjadi presiden sejak 1982. Artinya, pada 2026, dia telah berada di puncak pemerintahan Kamerun selama hampir 44 tahun.

Dia bahkan memimpin lebih lama dibandingkan sebagian besar warga Kamerun hidup.

Generasi muda Kamerun yang kini berusia 20-an atau 30-an praktis tidak mengenal presiden lain selain Biya.

Pemerintahan yang sangat panjang tersebut membuat Biya menjadi salah satu pemimpin politik paling berpengaruh sekaligus paling kontroversial di Afrika.

Freedom House dalam laporan 2026 menilai Kamerun sebagai negara yang menghadapi pembatasan terhadap kebebasan berekspresi dan aktivitas masyarakat sipil. Lembaga itu juga menilai partainya Biya, Cameroon People's Democratic Movement (CPDM), mempertahankan kekuasaan melalui penggunaan sumber daya negara, patronase politik, dan pembatasan terhadap aktivitas oposisi.

Pendukung Biya melihatnya sebagai figur yang menjaga stabilitas negara yang memiliki keragaman etnis dan bahasa.

Sebaliknya, para pengkritiknya menilai panjangnya masa kekuasaan, lemahnya pergantian kepemimpinan, serta pembatasan terhadap oposisi telah membuat sistem politik Kamerun sangat bergantung pada satu figur.

Read Entire Article
Masyarakat | | | |