loading...
Imam Mujahid mendefinisikan khianat sebagai merusak amanah yang diberikan dan khianat atau pengkhianat ini adalah dosa besar. Foto ilustrasi/istock
Kisah Bani Nadhir menunjukkan bahwa pengkhianatan terhadap perjanjian membawa konsekuensi. Bahkan khianat termasuk dosa besar yang keburukannya bertingkat-tingkat dan sangat merugikan.
Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa khianat merupakan perbuatan curang dan menyembunyikan sesuatu.
Imam Mujahid mendefinisikan khianat sebagai merusak amanah yang diberikan. Khianat adalah dosa besar , bahkan masuk dalam urutan ke-39 dalam kitab “Al-Kabair” karya Imam Adz-Dzahabi.
Khianat adalah salah satu bentuk dosa besar sebagaimana firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 27)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَأَنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ
“Dan bahwasanya Allah tidak meridai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (QS. Yusuf: 52)
Baca juga: Siapa Bani Nadhir? Inilah Akhir Hikayat Para Pengkhianat


















































