MIMIKA - Di jantung Tanah Papua, sebuah ikatan yang lebih dalam dari sekadar tugas militer tengah terjalin erat. Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali menegaskan akar identitasnya: tentara rakyat, yang lahir dari denyut nadi masyarakat dan berdedikasi penuh menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Minggu, (11/1/2026), menjadi saksi bisu penguatan filosofi ini di Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Papua, lebih dari sekadar garis geografis paling timur Indonesia, adalah cerminan jiwa bangsa. Di sini, relasi antara TNI dan masyarakat bukanlah garis terpisah, melainkan simpul tak terlihat yang mengikat batin. Ungkapan keramat bahwa “masyarakat adalah ibu kandung TNI” bukanlah sekadar retorika, melainkan fondasi kokoh tempat kekuatan prajurit bertumbuh dan berakar.
Kehadiran prajurit TNI di tanah Papua, yang meliputi putra-putri terbaik dari seluruh penjuru negeri, termasuk anak-anak asli Papua sendiri, membawa gelora pengabdian. Mereka hadir dengan semangat gotong royong, mengemban tanggung jawab moral untuk melindungi setiap jiwa. Keberadaan TNI di sini bukan semata benteng pertahanan, melainkan bagian integral dari denyut kehidupan sosial masyarakat.
Peran TNI di Papua telah melampaui batas fungsi militer konvensional. Melalui program pembinaan teritorial yang menyentuh langsung, prajurit TNI turut serta dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari membuka akses jalan yang menghubungkan dusun terpencil, memberikan pelayanan kesehatan yang merata, mendampingi generasi muda dalam pendidikan, hingga sigap dalam penanganan bencana. Setiap langkah ini adalah bukti nyata pendekatan humanis yang terus diusung demi terwujudnya stabilitas wilayah.
Panglima Komando Operasi Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, S.I.P., M.Si., secara tegas menyampaikan bahwa keberhasilan setiap misi TNI di Papua sangat bergantung pada jalinan kepercayaan dan dukungan masyarakat.
“TNI adalah bagian dari rakyat, lahir dari rakyat, dan berjuang untuk rakyat. Masyarakat Papua adalah ibu kandung TNI. Karena itu, pendekatan yang kami kedepankan adalah humanis, dialogis, serta melindungi seluruh warga tanpa terkecuali, ” tegas Mayjen Lucky Avianto di Timika.
Beliau menambahkan, stabilitas keamanan yang kokoh dan berkelanjutan hanya bisa terwujud ketika TNI dan masyarakat bergerak dalam satu irama. Setiap prajurit dituntut untuk tidak hanya menguasai medan tugas militer, tetapi juga memiliki kepekaan mendalam untuk menghormati adat, budaya, dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Papua.
Memang tak dipungkiri, tantangan di Papua bukanlah perkara mudah. Kompleksitas sosial, jejak sejarah konflik yang membekas, serta jurang kesenjangan pembangunan masih menjadi medan juang yang harus dihadapi bersama. Namun, TNI tak gentar, komitmennya teguh menjadikan pendekatan persuasif dan dialog sebagai poros utama dalam menciptakan rasa aman yang hakiki.
Keamanan sejati, lanjut Mayjen Lucky Avianto, tidak hanya lahir dari gertakan senjata, melainkan dari denyut keadilan, benih kepercayaan, dan penghormatan mendalam terhadap martabat setiap insan. Ketika masyarakat merasa dilindungi, didengarkan, dan dihargai, stabilitas akan tumbuh subur bagai tunas di tanah Papua.
Papua adalah rumah bagi kita semua. Menjaga Papua berarti merawat denyut kehidupan rakyatnya. Selama TNI tetap setia pada jati dirinya sebagai prajurit rakyat, lahir dari rahim masyarakat, maka persatuan dan kedamaian di Bumi Cenderawasih akan terus terjaga, kokoh dalam bingkai NKRI yang tak tergoyahkan.

6 hours ago
1

















































