loading...
Muhammad Syafi’ie el-Bantanie (Founder Insani Leadership dan Dai Dompet Dhuafa). Foto dok dompet dhuafa
Muhammad Syafi’ie el-Bantanie,
(Founder Insani Leadership dan Dai Dompet Dhuafa)
Jika Anda telah membaca Sirah Nabawiyah dengan tuntas, tentu akan mendapati peristiwa besar fathul Makkah yang terjadi pada bulan Ramadan tahun ke-8 hijriah. Peristiwa ini terjadi dilatar belakangi karena pengkhianatan kaum kafir Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah. Kaum kafir Quraisy memberikan bantuan militer kepada Bani Bakr (sekutu Quraisy) untuk menyerang Bani Khuza’ah (sekutu umat Islam) yang menimbulkan korban jiwa dari Bani Khuza’ah.
Singkatnya, Rasulullah dan pasukan Muslimin berhasil membebaskan dan memasuki Kota Makkah dengan damai tanpa pertumpahan darah. Saat memasuki Kota Makkah itulah, Rasulullah berseru kepada penduduk Makkah, “Sesiapa yang masuk Masjid al-Haram, maka dia aman. Sesiapa yang masuk ke rumahnya, maka dia aman. Sesiapa yang masuk ke rumah Abu Sofyan, maka dia aman.”
Baca juga:Kisah Malaikat Menunaikan Salat Jumat, Benarkah Pahalanya Diberikan kepada Umat Nabi SAW?
Pernahkah kita berpikir dan merenung mengapa yang pertama kali disampaikan Rasulullah kepada penduduk Mekah adalah memberikan jaminan rasa aman? Dari berbagai buku Sirah Nabawiyah yang pernah saya baca, hampir seluruhnya membahas tentang strategi dakwah Rasulullah yang memberikan jaminan keamanan bagi yang masuk rumah Abu Sofyan.
Mengingat Abu Sofyan adalah pemimpin suku Quraisy yang tersisa ketika itu dan baru saja masuk Islam menjelang fathul Mekah. Rasulullah juga mengenal watak Abu Sofyan yang ingin dipentingkan di tengah kaumnya. Maka itu, Rasulullah memberikan jaminan keamanan bagi yang masuk rumah Abu Sofyan sebagai strategi dakwah untuk mengambil hati Abu Sofyan agar teguh dalam keputusan keislamannya. Dari sini diharapkan penduduk Mekah berbondong-bondong masuk Islam mengikuti pemimpinnya.
Analisis di atas benar. Namun, menurut pemikiran saya, ada yang terlewat yang barangkali belum dibahas para penulis Sirah Nabawiyah (setidaknya saya belum membacanya). Yaitu, kecerdasan Rasulullah sebagai seorang pemimpin dengan memberikan jaminan keamanan sebagai seruan pertama yang disampaikan kepada penduduk Mekah.
Mengapa? Anda tahu rasa aman termasuk kebutuhan dasar manusia. Terlebih saat itu konteksnya adalah peperangan. Pengkhianatan kaum kafir Quraisy terhadap isi perjanjian Hudaibiyah menjadi alasan yang laik untuk menghukum mereka. Maka itu, wajar jika kaum kafir Quraisy membayangkan Rasulullah dan kaum muslimin akan menghukum mereka. Terlebih jika dikaitkan juga dengan bagaimana buruknya perlakuan mereka terhadap kaum Muslimin ketika periode dakwah Mekah. Rasulullah sebagai seorang pemimpin bisa membaca pikiran dan perasaan penduduk Mekah. Karena itu, Rasulullah memberikan jaminan keamanan.
Inilah prinsip kepemimpinan yang diajarkan dan diteladankan Rasulullah. Kita tidak perlu membahas bagaimana Rasulullah memberikan rasa aman dalam kehidupan para sahabat di Madinah. Itu sudah pasti. Bayangkan terhadap musuh yang selama ini mengintimidasi secara fisik, memboikot hingga kelaparan, mengusir, memerangi, dan kemudian mengkhianati perjanjian, Rasulullah memberikan jaminan rasa aman. Dengan keputusan Rasulullah tersebut, situasi Mekah tetap kondusif. Penduduk Mekah pun kemudian berbondong-bondong masuk Islam.
Supaya kita dapat merasakan feel-nya, mari kita masuk dalam dunia militer. Dalam militer, infantri adalah satuan yang bertugas melakukan serangan darat dalam sebuah operasi militer. Mereka sangat terlatih dalam melakukan tugasnya untuk menyerang musuh. Namun demikian, tahukah Anda ada satu variabel yang membuat pasukan infantri merasa percaya diri melakukan tugasnya menyisir pertahanan musuh.
Variabel itu adalah dukungan perlindungan dari pesawat tempur di atas mereka. Pesawat tempur biasa membersamai pasukan infantri dari atas berjaga-jaga jika ada serangan mendadak dari musuh. Melihat dari ketinggian memungkinkan bisa mengenali pergerakan musuh lebih awal. Perlindungan dari pesawat tempur ini memberikan rasa aman bagi pasukan infantri.
Namun demikian, akan ada situasi yang menyebabkan pesawat tempur tidak bisa memberikan pengawalan dengan baik, yaitu ketika jalur udara terpenuhi awan-awan tebal menggantung. Pilihannya turun dari ketinggian dan berada di bawah awan. Ini sangat berisiko karena ada aturan minimal ketinggian bagi pesawat tempur untuk bisa melakukan manuver serangan.


















































