Kesadaran Nasional Terbit Edisi Kedua, Jejak Ahmad Subardjo hingga Diplomasi Indonesia

19 hours ago 13

loading...

Peluncuran otobiografi Kesadaran Nasional Edisi Kedua karya Ahmad Subardjo di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, belum lama ini. Foto: Ist

JAKARTA - Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya dapat dibaca dari peristiwa besar yang terjadi pada Agustus 1945. Di balik Proklamasi , terdapat perjalanan panjang yang membentuk cara berpikir para tokoh bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan, hingga membangun hubungan Indonesia dengan dunia internasional.

Salah satu kesaksian penting mengenai perjalanan tersebut kembali dihadirkan melalui otobiografi Kesadaran Nasional karya Ahmad Subardjo, di mana Yayasan Ahmad Subardjo menerbitkan kembali buku yang pertama kali terbit pada 1978 itu dalam Edisi Kedua. Peluncurannya berlangsung di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, belum lama ini.

Baca juga: Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Cerita Perumusannya

Buku ini merekam pengalaman hidup Ahmad Subardjo sejak masa pendidikan, pergaulan, dan pergerakan di Eropa. Keterlibatannya dalam Perhimpunan Indonesia, perjuangan melawan kolonialisme, hingga peristiwa menjelang Proklamasi serta kiprahnya dalam pemerintahan dan diplomasi Republik Indonesia.

Edisi pertama kini sudah sulit ditemukan. Penerbitan kembali dilakukan agar kesaksian Subardjo dapat kembali dibaca masyarakat. Penyajiannya diperbarui agar lebih mudah dibaca, sementara isi dan kesaksian dalam karya asli tetap dipertahankan.

Yang membuat buku ini tetap relevan bukan hanya peristiwa yang diceritakan, tetapi juga cara Ahmad Subardjo memandang perjuangan kemerdekaan. Pendidikan, pengalaman di luar negeri, pergaulan dengan kaum pergerakan, perdebatan, dan perubahan politik membentuk pandangannya tentang kemandirian, persatuan, serta hak bangsa Indonesia untuk menentukan masa depannya sendiri.

Dari proses itu tumbuh kesadaran yang kemudian mendorongnya mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan, pemerintahan, dan diplomasi Indonesia. Buku ini juga menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak lahir dalam satu peristiwa melainkan melalui perjalanan panjang yang menuntut kemampuan membaca keadaan, berdialog, berunding, dan berani mengambil keputusan.

Pemilihan Museum Perumusan Naskah Proklamasi sebagai tempat peluncuran memiliki makna tersendiri.

Kepala Badan Pelestarian Kebudayaan DKI Jakarta Kementerian Kebudayaan Desse Yussubrasta mengatakan museum tersebut memiliki kaitan langsung dengan sejarah kelahiran Indonesia. “Keberadaan Bapak Ahmad Subardjo hanya hitungan jam berada di museum ini saat merumuskan naskah proklamasi. Ini peninggalan sejarah bangsa Indonesia yang tak terlupakan,” ungkapnya.

Di kediaman Laksamana Tadashi Maeda inilah, pada malam 16 Agustus 1945, naskah Proklamasi dirumuskan setelah Ahmad Subardjo membantu menjembatani perbedaan antara golongan muda dan golongan tua. Keesokan harinya, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Read Entire Article
Masyarakat | | | |