Surplus Dagang China Tembus Rp21.191 Triliun, AS Desak G20 Kompak Naikkan Tarif Impor

3 hours ago 6

loading...

Amerika Serikat (AS) menyerukan kepada seluruh negara anggota G20 untuk mengevaluasi kembali syarat perdagangan mereka dengan China. Foto/Dok

JAKARTA - Amerika Serikat (AS) menyerukan kepada seluruh negara anggota G20 untuk mengevaluasi kembali syarat perdagangan mereka dengan China. Menteri Keuangan atau Menkeu AS Scott Bessent menegaskan, bahwa langkah bersama ini sangat mendesak untuk membendung serbuan ekspor dari Beijing yang dinilai memicu ketimpangan ekonomi global.

Dalam sebuah wawancara menjelang Pertemuan Pemimpin Keuangan G20, Bessent menyoroti lonjakan ekspor China yang tidak berkelanjutan di tengah melemahnya konsumsi domestik di negara Tirai Bambu -julukan China- tersebut. Bessent menekankan bahwa perekonomian dunia tidak akan sanggup menanggung beban dari surplus perdagangan China yang menembus angka fantastis.

Baca Juga: AS Bongkar Skandal Raksasa, Lebih dari 40 Negara Bantu China Akali Tarif Trump

"Dunia tidak bisa membiarkan China memiliki surplus perdagangan sebesar USD1,2 triliun (setara Rp21.191 triliun dengan kurs Rp17.659). Ekonomi mereka cukup lemah, dan mereka berusaha keluar dari masalah itu melalui jalur ekspor," tegas Bessent.

Sementara itu ketika kebijakan proteksionisme ketat dan pembatasan impor kendaraan oleh AS, telah memaksa China mengalihkan komoditas ekspornya ke kawasan lain, khususnya Eropa dan Amerika Latin. Penerapan tarif impor oleh Presiden Donald Trump berhasil memangkas defisit perdagangan AS dengan China hingga sepertiga menjadi USD73,9 miliar pada semester pertama 2026.

Baca Juga: Trump Tembak Tarif 15% untuk Bahan Utama Chip! China Meradang

Di tengah tekanan ekonomi yang kian ketat, Washington dan Beijing tetap membuka ruang diplomasi menjelang KTT tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada akhir September mendatang.

Bessent mengungkapkan, adanya potensi kesepakatan saling pangkas tarif untuk produk non-strategis senilai USD30 miliar di masing-masing pihak. Selain itu kedua raksasa ekonomi ini dijadwalkan membahas aturan batas aman (guardrails) untuk teknologi kecerdasan buatan (AI) guna mencegah jatuhnya model AI canggih ke tangan aktor non-negara.

(akr)

Read Entire Article
Masyarakat | | | |