loading...
Jafran Indonesia, produsen benih jagung hibrida asal Jember, memanfaatkan ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo sebagai momentum untuk memperkenalkan varietas unggulan Jafran 8. Foto/Dok
GORONTALO - PT Jafran Indonesia, produsen benih jagung hibrida nasional asal Jember, Jawa Timur, memanfaatkan ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo sebagai momentum untuk memperkenalkan varietas unggulan Jafran 8 yang dipasarkan dengan nama produk JR 737, sekaligus memperluas jaringan distribusi dan kemitraan di kawasan Indonesia Timur yang memiliki potensi besar sebagai sentra produksi jagung nasional.
Keikutsertaan PT Jafran Indonesia dalam forum petani dan nelayan terbesar di Indonesia yang berlangsung pada 20-25 Juni 2026 di Gelanggang Olahraga (GOR) David Tony, Limboto, Kabupaten Gorontalo, merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung program swasembada jagung dan ketahanan pangan nasional melalui penyediaan benih jagung hibrida berkualitas.
Upaya tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan jagung nasional untuk memenuhi kebutuhan pangan, industri pakan ternak, serta berbagai sektor turunannya. Di sisi lain, tantangan peningkatan produktivitas lahan dan efisiensi usaha tani menuntut penggunaan benih unggul yang mampu menghasilkan panen lebih optimal.
Pada kesempatan tersebut, PT Jafran Indonesia memperkenalkan Jafran 8 (JR 737), benih jagung hibrida unggulan hasil riset dan pengembangan perusahaan yang telah memperoleh Surat Keputusan (SK) Pelepasan Varietas. Varietas ini melengkapi portofolio benih unggulan Jafran setelah sebelumnya menghadirkan Jafran 1 dan Jafran 3 yang telah dikenal petani di berbagai daerah.
Baca Juga: Jagung Hibrida: Dari Penolakan Menjadi Primadona di Madura
JR 737 dikembangkan untuk menjawab kebutuhan petani akan benih jagung hibrida yang produktif, adaptif, dan efisien. Varietas ini memiliki daya berkecambah hingga 90 persen, tahan terhadap penyakit bulai, hawar daun, dan karat daun, serta didukung batang yang kokoh dan sistem perakaran yang kuat sehingga lebih tahan rebah. Selain menghasilkan tongkol berukuran besar dengan biji berwarna kuning oranye, JR 737 memiliki potensi hasil mencapai 13,55 ton per hektare pipilan kering (KA 15%).
Untuk memperoleh produktivitas optimal, penggunaan benih JR 737 direkomendasikan 20 kilogram per hektare dengan penerapan teknik budidaya yang sesuai rekomendasi. Kombinasi benih unggul dan praktik budidaya yang tepat diharapkan mampu membantu petani meningkatkan hasil panen sekaligus keuntungan usaha tani secara berkelanjutan.

















































