AS Ingin Caplok Greenland, Apa yang Terjadi Jika Sesama Anggota NATO Saling Berperang?

12 hours ago 4

loading...

Amerika Serikat ingin mencaplok Greenland dari Denmark, yang memicu penentangan dari negara-negara NATO Eropa. Foto/Inspire Preneur Magazine

NUUK - Pemerintah Amerika Serikat (AS), di bawah Presiden Donald Trump, sekali lagi mengancam akan mengambil alih Greenland, baik dengan mengakuisisinya atau melalui penggunaan kekuatan militer. Washington berdalih hal itu untuk menghalau musuh Amerika di wilayah Arktik.

Greenland, yang merupakan wilayah semi-otonom Denmark, sudah menjadi tuan rumah Pangkalan Luar Angkasa Pituffik yang dioperasikan AS dalam koordinasi dengan otoritas Denmark. Baik AS maupun Denmark adalah anggota dan pendiri NATO, aliansi militer terkuat di dunia.

Baca Juga: AS Akan Beli Greenland, Setiap Warganya Diimingi Rp1,6 Miliar

Para pemimpin Eropa dan Kanada telah memberikan dukungan kepada Denmark dan Greenland, dengan mengatakan bahwa mereka sedang menyusun rencana jika Amerika Serikat benar-benar melaksanakan ancamannya.

Para analis mengatakan bahwa setiap upaya AS untuk merebut Greenland akan menjadi langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah NATO dan menimbulkan pertanyaan serius tentang kelangsungan aliansi dan batasan Pasal 5, yang dirancang untuk membela diri terhadap agresor eksternal.

Apa yang Terjadi Jika Anggota NATO Saling Berperang?

Pertahanan kolektif adalah prinsip utama NATO, di mana Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap satu anggota NATO dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.

Ini telah menjadi janji yang mengikat sejak tahun 1949, ketika aliansi tersebut terbentuk dan telah menempa solidaritas antara Amerika Utara dan Eropa.

Karena Pasal 5 mensyaratkan persetujuan bulat dari semua anggota untuk diaktifkan, konflik antara dua anggota akan menyebabkan kebuntuan, karena aliansi tidak dapat memilih untuk berperang melawan dirinya sendiri.

Satu-satunya saat Pasal 5 diaktifkan adalah setelah serangan 11 September 2001 di AS.

Mengutip dari Al Jazeera, Minggu (11/1/2026), berikut ini contoh-contoh ketika anggota NATO menghadapi potensi konflik satu sama lain.

1. Permusuhan Inggris dan Islandia 1958–1976

Perang Ikan Kod (1958–1976) adalah serangkaian perselisihan yang meningkat antara Inggris dan Islandia mengenai hak penangkapan ikan di Atlantik Utara.

Meskipun konflik tersebut tidak pernah menjadi perang skala penuh, itu melibatkan serangkaian konfrontasi Angkatan Laut, termasuk penabrakan kapal dan gesekan diplomatik antara kedua anggota NATO.

Karena khawatir kehilangan pangkalan udara Keflavik di Islandia, yang sangat penting untuk memantau kapal selam Soviet di Samudra Atlantik utara, NATO dan AS menekan Inggris untuk mengalah. Perselisihan tersebut berakhir pada tahun 1976 dengan kemenangan diplomatik penting bagi Islandia, yang menetapkan batas 200 mil (322 km) yang tetap menjadi standar global hingga saat ini.

Read Entire Article
Masyarakat | | | |