PUNCAK JAYA - Tradisi bakar batu menjadi momen istimewa bagi Satgas Yonif 721/Makkasau untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat Kampung Mewoluk, Distrik Mewoluk, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah. Bersama ratusan warga, tokoh agama, dan pemerintah distrik, prajurit TNI mengikuti prosesi adat yang sarat makna sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan, Selasa (14/7/2026).
Sekitar 100 warga mengikuti kegiatan tersebut. Prajurit Satgas bersama masyarakat bergotong royong menyiapkan seluruh rangkaian prosesi, mulai dari menyusun batu, menyiapkan kayu bakar, hingga memasak berbagai bahan makanan yang kemudian dinikmati bersama. Suasana penuh keakraban mewarnai kegiatan yang menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan saling mengenal sejak awal penugasan.
Turut hadir dalam kegiatan itu Kepala Gereja GIDI Mewoluk Beliget Kogoya, Pendeta Gereja GIDI Mewoluk Mekiles Wenda, serta Kepala Distrik Mewoluk Yulius Wonda. Kehadiran para tokoh masyarakat tersebut memperkuat semangat kebersamaan dalam menyambut personel Satgas Yonif 721/Makkasau.
Kepala Gereja GIDI Mewoluk, Beliget Kogoya, mengapresiasi langkah Satgas yang memilih menghormati budaya lokal sebagai pintu membangun hubungan dengan masyarakat.
"Kami menyambut baik kehadiran Satgas Yonif 721/Makkasau. Dengan mengikuti tradisi bakar batu, mereka menunjukkan penghormatan terhadap adat dan budaya masyarakat Papua. Kami berharap hubungan baik ini terus terjalin dan membawa kedamaian bagi warga Mewoluk, " ujarnya.
Hal senada disampaikan Pendeta Gereja GIDI Mewoluk, Mekiles Wenda, yang berharap kebersamaan tersebut menjadi fondasi terciptanya hubungan yang harmonis.
"Kebersamaan seperti ini menjadi awal yang baik untuk membangun rasa saling percaya. Kami berharap seluruh prajurit selalu diberi kekuatan dan perlindungan dalam menjalankan tugas di Papua, " katanya.
Sementara itu, Komandan Satgas Yonif 721/Makkasau, Letkol Inf Saud Pardamaian Nainggola, menegaskan bahwa keikutsertaan dalam tradisi bakar batu merupakan bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus upaya membangun kedekatan dengan masyarakat.
"Tradisi bakar batu memiliki makna persaudaraan, persatuan, dan rasa syukur. Kami ingin hadir sebagai bagian dari masyarakat dengan menghormati budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kepercayaan dan komunikasi yang baik menjadi modal penting dalam menciptakan situasi yang aman, damai, dan kondusif di wilayah penugasan, " tegasnya.
Kegiatan ditutup dengan makan bersama antara prajurit dan masyarakat. Momen tersebut menjadi simbol eratnya hubungan yang mulai terbangun antara Satgas Yonif 721/Makkasau dan warga Kampung Mewoluk, sekaligus memperlihatkan bahwa pendekatan budaya dapat menjadi jembatan untuk memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat Papua.
(PERS)


















































