Larangan Truk Sumbu 3 saat Lebaran Berdampak pada Penghasilan Sopir hingga Pedagang

11 hours ago 3

loading...

Pedagang makanan menyebut larangan truk sumbu tiga pada momentum Lebaran bisa berdampak pada penurunan penghasilan. Foto/istimewa

BOGOR - Larangan operasional truk sumbu 3 atau lebih saat momen Lebaran 2026 ini ternyata tidak hanya berdampak terhadap para sopir truk dan buruh muat barang, tapi juga terhadap nasib pedagang makanan di sekitar pabrik. Dampak utamanya adalah terjadinya penurunan drastis omzet pendapatan karena hilangnya basis pelanggan utama, yaitu sopir truk dan buruh pabrik.

Artinya, kebijakan ini menciptakan ketidakpastian ekonomi bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas logistik.

Seperti diketahui, selama momen Lebaran 2026 Pemerintah memberlakukan pelarangan terhadap truk sumbu 3 atau lebih selama 17 hari mulai Jumat, 13 Maret 2026 pukul 12.00 hingga Minggu, 29 Maret 2026 pukul 00.00 waktu setempat.

Baca juga: Operasi Ketupat Jaya 2026, Truk Sumbu 3 Dilarang Lintasi Ruas Tol Mulai 13 Maret

Pelarangan terhadap truk sumbu 3 ini otomatis akan menyebabkan pabrik mengurangi aktivitas produksi dan pengiriman barang. Hal ini tentu akan berimbas pada berkurangnya aktivitas buruh pabrik, yang kemudian berdampak pada warung makan, warung kopi, dan pedagang kecil di sekitarnya.

Padahal, sopir-sopir truk sumbu 3 ini adalah konsumen rutin warung makan di sekitar pabrik. Dampaknya, para pedagang tersebut pasti akan kehilangan pelanggan utama mereka, yang berakibat pada penurunan pendapatan yang drastis.

Nena Sukaena, pemilik warung kopi dan gorengan di sekitar pabrik yang berada di Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Bogor, pun kaget saat mendengar adanya kebijakan Pemerintah yang melarang truk sumbu 3 beroperasi selama 17 hari saat momen Lebaran nanti. Dengan wajah sedih dia menyampaikan kekhawatiran terhadap usaha yang sudah dirintisnya selama dua tahun itu.

Lihat video: Nekat Masuk Tol Saat Nataru? Kendaraan Sumbu Tiga Akan Ditindak Tegas dan Ditilang!

“Lah, kalau truk-truk itu nggak bisa jalan, nasib saya dan anak-anak bagaimana nantinya? Jualan pasti jadi sepi karena pelanggan di warung kami kan kebanyakan para sopir dan kenek truk itu,” ujar Ibu yang setiap harinya juga tinggal bersama suaminya di warung kecil tempatnya berjualan itu, Kamis (12/3/2026).

Read Entire Article
Masyarakat | | | |