Kemarau Kian Parah di Banjarnegara, BPBD Sudah Salurkan 535 Ribu Liter Air Bersih untuk Ribuan Warga

15 hours ago 2

BANJARNEGARA - Musim kemarau yang terus berlangsung mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Ribuan warga kini bergantung pada bantuan distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hingga awal Juli 2026, BPBD Banjarnegara telah menyalurkan 107 tangki atau sekitar 535.000 liter air bersih kepada 801 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.735 jiwa yang terdampak kekeringan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarnegara, Raib, mengatakan distribusi air bersih dilakukan secara rutin setiap dua hari sekali sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat di desa-desa yang mengalami krisis air.

"Total sudah kami salurkan 107 tangki atau sekitar 535 ribu liter air bersih kepada masyarakat terdampak. Penyaluran akan terus dilakukan selama musim kemarau masih berlangsung, " ujar Raib, Jumat (3/7/2026).

Data BPBD menunjukkan, Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang, menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbanyak, yakni 62 tangki atau sekitar 310.000 liter.

Sementara itu, Desa Serang di kecamatan yang sama menerima 39 tangki atau 195.000 liter, disusul Desa Duren, Kecamatan Pagedongan, sebanyak 4 tangki atau 20.000 liter, serta Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja, sebanyak 2 tangki atau 10.000 liter.

BPBD memastikan distribusi bantuan akan terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan, mengingat masih banyak wilayah yang mengalami penurunan debit sumber air bersih.

Krisis air bersih bukan persoalan baru bagi sebagian warga Banjarnegara. Setiap musim kemarau, sejumlah desa kembali mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

Kepala Desa Duren, Rusman, mengungkapkan berbagai upaya telah dilakukan pemerintah desa bersama pemerintah daerah, termasuk pembangunan sumur bor. Namun, solusi tersebut belum mampu mengatasi persoalan secara permanen.

"Kami sudah berusaha mengusulkan berbagai solusi kepada Pemerintah Kabupaten bahkan Kementerian Pertahanan hingga dibangun sumur bor. Namun air hanya keluar sebentar, setelah itu kembali mengering. Saat ini warga masih sangat bergantung pada bantuan air bersih dari BPBD, " jelas Rusman.

Mengantisipasi dampak kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan selama 90 hari, terhitung sejak 22 Juni hingga 19 September 2026.

Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Banjarnegara Nomor 300.2/470 Tahun 2026 sebagai dasar percepatan penanganan kekeringan di wilayah yang terdampak.

Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, menegaskan penanganan kekeringan tidak cukup hanya mengandalkan distribusi air bersih. Pemerintah daerah juga menyiapkan berbagai langkah jangka panjang untuk memperkuat ketahanan air masyarakat.

"Distribusi air bersih merupakan langkah darurat. Untuk jangka panjang kami akan mengembangkan pembangunan sumur bor, embung, optimalisasi pompa air, pencarian sumber air baru hingga penyediaan tandon air di kawasan permukiman agar persoalan ini dapat diminimalkan, " tegas Amalia.

Ia juga meminta seluruh camat melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, mendata kebutuhan masyarakat, serta mengidentifikasi sumber air terdekat agar distribusi bantuan lebih efektif dan tepat sasaran.

Langkah antisipasi tersebut dilakukan menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.

Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, dengan sejumlah wilayah di Banjarnegara berpotensi mengalami kekeringan lebih parah, di antaranya Kecamatan Mandiraja, Purwanegara, Bawang, Klampok, dan Susukan.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak serta segera melaporkan apabila mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih agar bantuan dapat segera disalurkan.

(Agung)

Read Entire Article
Masyarakat | | | |