Demo Dana Tali Asih Topogaro Dinilai Janggal, Eks Camat Bungku Barat Angkat Bicara

2 days ago 2

MOROWALI, Sulawesi Tengah– Aksi demonstrasi sejumlah warga Desa Topogaro, Kecamatan Bungku Barat, terkait tuntutan dana tali asih menuai sorotan dari berbagai pihak.

Mantan Camat Bungku Barat, Jalaludin Ismail, menilai aksi tersebut terkesan janggal karena persoalan itu tidak pernah muncul selama dirinya menjabat.

Jalaludin mengungkapkan, dinamika terkait dana tali asih baru mencuat setelah dirinya dipindah tugas menjadi Camat Bahodopi. Padahal, selama menjabat, ia telah menegaskan agar pemerintah desa tidak terlibat dalam pengelolaan dana tersebut.

“Ini agak janggal. Selama saya menjabat tidak pernah ada persoalan. Setelah saya dipindah baru muncul, ” ujarnya kepada media ini saat ditemui di kantor Kecamatan Bahodopi, Senin (14/04/2026).

Ia menjelaskan bahwa dana tali asih dari perusahaan PT IHIP/BTIIG sejak awal dikelola oleh panitia khusus, yakni Tim 10, dan bukan oleh pemerintah desa. 

Bahkan, dirinya telah melarang pemerintah desa untuk ikut campur guna menghindari potensi persoalan di kemudian hari.

“Saya sudah tegaskan agar desa tidak terlibat. Dana itu langsung dari manajemen perusahaan dijakarta ke rekening yang dikelola Tim 10, ” tegasnya.

Menurutnya, besaran dana tali asih yang diterima Desa Topogaro sekitar Rp3, 5 miliar, sedangkan Desa Ambunu sekitar Rp4 miliar, yang disesuaikan dengan luas wilayah masing-masing.

Ia juga menyarankan agar pemerintah desa bersama Tim 10 menemui langsung pihak perusahaan untuk memastikan jumlah dana yang telah dikucurkan, bahkan bila perlu ke kantor pusat di Jakarta.

Hal ini penting agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat.

“Harus jelas jumlahnya. Kalau perlu direkam dan dipublikasikan supaya tidak menjadi fitnah, ” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Topogaro, Hamid, kepada wartawan media ini membantah tudingan yang dialamatkan kepada dirinya dalam aksi demonstrasi tersebut. Ia dengan tegas membantah keterlibatannya dalam pengelolaan dana tali asih.

“Persoalan tali asih itu tidak pernah saya terlibat. Itu murni dikelola oleh Tim 10, ” ujar Hamid.

Ia juga mengaku heran namanya dikaitkan dalam polemik tersebut. Pasalnya, saat proses pencairan pun dana berlangsung, dirinya sedang berada di luar daerah, tepatnya di Makassar.

“Saat pencairan saya sedang di Makassar. Jadi saya juga heran kenapa dikaitkan dengan persoalan ini, ” ungkapnya.

Hamid berharap persoalan ini dapat diluruskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Ia juga mendukung langkah klarifikasi bersama antara pihak perusahaan, Tim 10, pemerintah desa, serta unsur masyarakat guna memastikan transparansi pengelolaan dana tali asih tersebut.

"Kita berharap ada klarifikasi dari pihak penanggung jawab, sehingga polemik dana tali asih dapat segera menemukan titik terang dan tidak lagi menimbulkan keresahan di masyarakat, " tandas Hamid Kades Topogaroo.

Read Entire Article
Masyarakat | | | |