Senyum Perbatasan: Pos Dangbet Tebar Bantuan Pendidikan di Pedalaman Papua

1 day ago 8

PUNCAK - Di tengah lanskap terjal Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, yang kerap kali menjadi saksi bisu tantangan akses layanan publik, kehadiran aparat keamanan kembali merajut cerita kemanusiaan. Pos Dangbet Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 732/Banau, melalui inisiatif "Sahabat Banau", tidak hanya menjaga kedaulatan negeri, namun juga menyalakan lentera harapan bagi generasi penerus di wilayah perbatasan. Sabtu (29/11/2025), senyum merekah di wajah 24 keluarga dan 37 pelajar setempat saat menerima bantuan pakaian layak pakai dan perlengkapan belajar yang sangat dibutuhkan.

Program "Sahabat Banau", yang merupakan akronim dari "Saling Hargai dan Toleransi Banau Amankan Natal dan Tahun Baru", hadir sebagai respons nyata terhadap dua tantangan krusial yang dihadapi warga pegunungan pedalaman: keterbatasan sandang di tengah cuaca dingin yang menusuk tulang, serta kepedihan anak-anak yang harus berbagi alat tulis sekolah karena sulitnya akses pembelian.

Komandan Pos Dangbet, Lettu Inf. Ronal Simbolon, menegaskan bahwa tugas menjaga perbatasan melampaui sekadar operasi pengamanan wilayah.

Ia melihatnya sebagai investasi masa depan bangsa. "Papua bukan hanya soal mengamankan wilayah, tetapi mengamankan masa depan. Sekolah di sini jauh, distribusi logistik berat, jadi kami pakai pendekatan jemput warga dan dukung anak belajar. Kami ingin anak-anak tumbuh dengan percaya diri saat ke gereja, ke sekolah, ke masa depan, ” ujar Ronal Simbolon kepada wartawan di sela penyaluran bantuan.

Pernyataan ini mendapat resonansi mendalam dari Kepala Distrik Beoga, Apolos Tabuni, yang turut hadir menyaksikan kegiatan tersebut. Ia mengakui peran vital keterlibatan TNI sebagai penopang utama layanan pendidikan di kawasan yang masuk kategori 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

"Kalau hanya menunggu program pemerintah tiba lewat jalan darat, bisa berbulan-bulan. Maka, kolaborasi seperti ini kritikal. Apa yang dibawa prajurit bukan hanya barang, tapi kecepatan bantuan dan kepercayaan sosial, ” kata Apolos.

Dari sisi masyarakat, kehadiran bantuan ini disambut dengan rasa syukur yang meluap. Yunus Wanma (48), seorang tokoh gereja sekaligus perwakilan orang tua pelajar, berbagi cerita haru tentang perjuangan anak-anaknya dalam menuntut ilmu.

"Tahun ajaran berjalan, tapi anak-anak sering buku dan pensilnya bergantian karena sulit beli. Hari ini mereka pulang bukan cuma bawa roti, tapi alat belajar milik sendiri. Itu yang bikin kami lega, ” ungkap Yunus, matanya berkaca-kaca.

Antusiasme terlihat jelas dari wajah para siswa saat menerima perlengkapan belajar. Mira Kemabu (14), seorang siswi SMP, dengan mata berbinar menyampaikan cita-citanya.

"Saya mau rajin belajar biar bisa jadi perawat. Sekarang saya sudah punya buku sendiri, jadi bisa tulis PR di rumah, ” ujarnya singkat namun sarat dengan harapan.

Dr. Imelda Wamafma, seorang pengamat hubungan sipil-militer dari Universitas Papua, menilai kegiatan ini memiliki nilai jurnalistik yang tinggi karena berhasil mengintegrasikan aspek pendidikan, pemenuhan kebutuhan sandang, dan stabilitas sosial dalam satu narasi yang kuat.

"Kegiatan non-tempur yang konsisten membuat prajurit menjadi simpul distribusi layanan darurat masyarakat. Pendekatan teritorial paling efektif bukan lewat deklarasi, tapi keberlanjutan aksi. Di sinilah berita menemukan nyawanya: pada dampak, bukan seremoni, ” jelas Imelda.

Hingga kegiatan berakhir pada pukul 16.30 WIT, situasi di Pos Dangbet dilaporkan tetap kondusif, bahkan di tengah guyuran kabut tebal yang turun lebih awal dari biasanya. Antrean warga yang sabar mengular menjadi bukti nyata betapa berharganya bantuan yang disalurkan secara terbuka, terdata, dan disaksikan langsung oleh perangkat distrik, memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap langkahnya.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Masyarakat | | | |