Nightography: Cara Samsung Mengubah Malam Jadi Panggung Utama Kamera

13 hours ago 5

loading...

Aktivitas malam hari yang direkam dengan Galaxy S Series, menonjolkan detail warna dan minim noise berkat Nightography. Foto: Samsung Indonesia

JAKARTA - Sejak diperkenalkan pada 2022, Nightography menjelma menjadi trade mark Samsung Galaxy S Series dan mengubah cara pengguna memotret serta merekam video di kondisi minim cahaya: menjadikan low light bukan lagi kelemahan, melainkan panggung utama kualitas kamera smartphone.

Dari Gelap ke Jernih: Ketika Malam Bukan Lagi Musuh Kamera

 Cara Samsung Mengubah Malam Jadi Panggung Utama Kamera

Samsung jadi bagian dari fase baru tren mobile photography. Jika dulu kualitas kamera dinilai dari jumlah megapiksel atau bukaan lensa, kini pembeda utama pada 2026 adalah performa low light—baik untuk foto maupun video.

Dalam beberapa tahun terakhir, kemampuan merekam video malam yang tetap jernih, stabil, dan minim noise menjadi standar baru flagship.

Di titik inilah Samsung memosisikan Nightography sebagai identitas yang konsisten dibangun sejak Galaxy S22 Series pada 2022.
Nightography bukan sekadar mode malam yang mencerahkan gambar.

Samsung mengembangkan teknologi ini untuk menjaga detail subjek tetap terbaca, noise terkendali, dan warna tetap natural sesuai suasana aslinya.

Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, menegaskan pendekatan tersebut bukan hanya soal perangkat keras.

”Kualitas foto dari smartphone kini semakin sempurna dengan adanya kombinasi antara hardware dan software yang mumpuni. Lebih dari pengembangan teknologi lensa dan sensor kamera, Samsung terus konsisten meningkatkan kecerdasan AI di dalamnya,” ujarnya.

Evolusi Nightography: Dari S22 ke S25

 Cara Samsung Mengubah Malam Jadi Panggung Utama Kamera

Nightography pertama kali diperkenalkan secara masif lewat Samsung Galaxy S22 Series. Saat itu, Samsung menekankan pemrosesan multi-frame berbasis AI yang mampu menggabungkan hingga 30 frame menjadi satu gambar akhir. Teknik ini mengoptimalkan warna dan detail di setiap piksel sekaligus menekan noise.

Teknologi tersebut terus berkembang di Samsung Galaxy S23 Ultra, yang membawa sensor 200MP dan dukungan prosesor generasi baru untuk pemrosesan lebih cepat.

Pendekatan nona-binning—menggabungkan sembilan piksel menjadi satu—membantu menangkap cahaya lebih banyak di kondisi gelap.

Memasuki Samsung Galaxy S24 Series dan berlanjut ke Samsung Galaxy S25 Series, Samsung memperkenalkan ProVisual Engine.

Mesin AI ini dilatih menggunakan lebih dari 400 juta dataset, memungkinkan kamera memahami scene, subjek, serta kebutuhan pengguna secara kontekstual.

Read Entire Article
Masyarakat | | | |