Merah Putih Berkibar di Honai Wamitu, Satgas TNI Perkuat Nasionalisme Jelang Natal

1 day ago 10

PUNCAK - Di tengah kehangatan aroma kayu bakar yang menyelimuti honai di Kampung Wamitu, Distrik Goa Balim, Kabupaten Puncak, kehadiran personel Satgas Yonif 408/Sbh Pos Tumbupur pada Sabtu (29/11/2025) membawa semangat baru. Bukan sekadar patroli rutin, mereka datang dengan membawa bendera Merah Putih, sebuah simbol persatuan yang berkibar di ruang paling privat warga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya komunikasi sosial yang berfokus pada penguatan nasionalisme menjelang momen Natal. Di kampung yang terletak di ketinggian lebih dari 1.800 mdpl ini, isu keamanan kawasan 3T kerap mendominasi, namun Satgas Yonif 408/Sbh ingin menyoroti sisi lain yang tak kalah penting: ketahanan sosial dan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia.

Keputusan mengibarkan Merah Putih di honai, rumah adat masyarakat Papua, bukanlah tanpa alasan. Setelah berdialog dengan tokoh masyarakat dan pemuda gereja setempat, Kapten Inf. Indra Permana, Komandan Pos Tumbupur, melihat adanya kebutuhan mendalam untuk menanamkan rasa kebangsaan langsung di hati warga.

“Kami melihat Merah Putih perlu hadir di ruang paling intim warga—honai, rumah ibadah, dan jalan kampung—agar Natal tahun ini bukan hanya perayaan iman, tetapi juga momentum menyatukan identitas sebagai orang Papua dan warga negara Indonesia, ” ujar Kapten Indra.

Sorak-sorai riang anak-anak menyambut pengibaran bendera. Dengan penuh semangat, mereka mengarak Merah Putih melintasi jalan tanah kampung, sebuah pengalaman pertama bagi sebagian dari mereka yang dipimpin langsung oleh prajurit TNI sejak pos tersebut berdiri.

Melkianus Wonda, Kepala Distrik Goa Balim yang turut menyaksikan momen tersebut, merasakan adanya perubahan positif yang dirasakannya.

“Orang sering bicara Goa Balim dari Jakarta tanpa lihat kami. Hari ini Merah Putih dikibarkan oleh mereka yang turun ke tanah. Ini membuat warga percaya bahwa negara hadir, bukan hanya memotret masalah, tetapi merayakan kami sebagai bagian dari solusi, ” kata Melkianus.

Bagi Pdt. Timotius Kemabu, Gembala Jemaat GKII Wamitu, kolaborasi antara pemuda gereja dan personel Satgas ini adalah cerminan pesan Natal yang paling hakiki bagi tanah Papua.

“Natal bagi kami bukan pohon megapolitan, tapi kedekatan. Ketika TNI pasang lampu, salib, dan bendera di honai, itu artinya mereka menghormati rumah adat dan kepercayaan kami. Di situlah damai lahir, ” tutur Pdt. Timotius kepada media.

Dampak emosional dari kegiatan ini juga dirasakan oleh Mama Tina Tabuni, seorang ibu rumah tangga yang menerima bendera untuk honai-nya. Ia mengungkapkan rasa aman yang kini menyelimuti keluarganya.

“Selama ini kami takut gelap. Sekarang honai kami ada bendera, ada doa, ada kebersamaan. Anak-anak jadi bangga, hati kami jadi tenang. Terima kasih TNI, Tuhan berkati tugas kalian, ” ucap Mama Tina, matanya berkaca-kaca.

Pendapat serupa datang dari Dr. (HC) Maria Wonggor, seorang relawan yang kerap bergiat di daerah pegunungan Puncak. Ia melihat pengibaran Merah Putih ini sebagai contoh nyata pendekatan keamanan yang berbasis budaya lokal.

“Di Andugume, Damai bukan slogan. Ini testimoni lapangan bagaimana simbol kebangsaan bisa hidup berdampingan dengan identitas adat dan agama. Itulah berita: nasionalisme tumbuh dari kampung, bukan dari mimbar politik, ” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung secara terbuka dan partisipatif ini ditutup dengan doa bersama, meninggalkan jejak kebanggaan dan harapan. Satgas Yonif 408/Sbh berkomitmen untuk terus menggelar kegiatan serupa di klaster kampung sekitarnya sebagai bagian dari upaya pengamanan Natal dan Tahun Baru dengan pendekatan sosial yang humanis.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Masyarakat | | | |