Jaya Sakti, 15 Bungkus Makanan, dan Kehangatan di Perbatasan Bilai

19 hours ago 4

PUNCAK - Di tengah bentangan alam perbatasan Papua yang penuh tantangan, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG Mobile Yonif 113/Jaya Sakti menemukan cara unik untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Alih-alih hanya menjalankan tugas pengamanan, mereka memilih duduk bersama di satu meja, menciptakan momen kehangatan yang melampaui batas geografis.

Minggu, (30/11/2025), menjadi saksi bisu keakraban yang terjalin di Pos Taktis (TK)/Pos Bilai. Sebanyak 15 bungkus makanan siap saji dibagikan kepada warga Kampung Bilai, Kabupaten Puncak, namun esensi kegiatan ini jauh melampaui sekadar pemberian bantuan pangan. Puncaknya adalah sesi makan bersama yang berlangsung penuh gelak tawa dan cerita.

Kehadiran personel TNI disambut hangat oleh warga yang berdatangan dari honai dan kebun. Anak-anak berseragam gereja, para ibu, dan bapak yang baru pulang dari ladang, semuanya berkumpul. Bintara Kesehatan Pos Bilai, Sertu Lukas Manembu (42), menjelaskan bahwa pembagian makanan ini menjadi pintu masuk untuk memantau kondisi kesehatan warga secara lebih mendalam.

“Di Bilai, percakapan soal sehat sering dimulai dari makan. Kami berbagi makanan bukan hanya soal kenyang, tapi juga melihat keluarga yang flu, anak yang butuh vitamin, atau lansia yang perlu kami kunjungi lagi, ” kata Sertu Lukas.

Serma M. Ridho (32), salah satu personel pelaksana kegiatan, menambahkan bahwa pola makan bersama ini adalah bagian dari strategi teritorial untuk membuka ruang dialog informal, tanpa sekat hierarki.

“Hari ini kami bawa 15 bungkus makan, tapi yang lebih penting kami bawa telinga untuk mendengar. Ketika warga mau duduk makan bersama, di situ kami bisa bicara soal keamanan, pendidikan, dan kebutuhan mereka dengan jujur, ” ujar Ridho.

Suasana di meja makan begitu hidup. Anak-anak antusias menerima permen dari para personel, sementara orang tua larut dalam percakapan hangat tentang kehidupan sehari-hari, mulai dari cerita kebun hingga rencana ibadah Natal. Kepala Suku Kampung Bilai, Tom Tipagau (55), merasakan perubahan positif dari pendekatan ini.

“Kami hormati mereka sebagai TNI, tapi hari ini kami lihat mereka sebagai keluarga jauh yang mau duduk sama-sama. Di meja makan, semua jadi lebih ringan untuk bicara, ” ungkap Tom.

Hal senada diungkapkan Ibu Dewina Bagubau (52), yang hadir bersama keluarga besarnya.

“Torang (kami) jarang makan dengan orang dari luar kampung. Hari ini terasa dekat. Anak cucu senang, orang tua pun terhibur. Semoga kebersamaan begini ada terus, ” ucap Dewina dengan senyum merekah.

Pendekatan teritorial yang mengedepankan budaya makan bersama ini terbukti efektif dalam mereduksi jarak sosial di wilayah perbatasan. Lebih dari itu, kegiatan ini membuka pintu untuk mitigasi isu kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara lebih luwes dan manusiawi.

Satgas Yonif 113/Jaya Sakti berkomitmen untuk terus menggelar kegiatan serupa secara berkala. Safari meja perbatasan ini menjadi wujud nyata penyelarasan antara tugas pengamanan wilayah dengan pendekatan terhadap denyut kehidupan sehari-hari warga, demi mewujudkan suasana perbatasan yang lebih aman, sehat, dan penuh rasa kekeluargaan.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Masyarakat | | | |